Blog ni adalah rekaan aku semata-mata... Dalam blog ni terdapat hasil tulisan titik pena aku sendiri dan ada juga artikel-artikel atau blog-blog menarik yang di "copy" kan dari bloggerz2 laen utk dikongsi bersama... Terlebih dahulu, aku nak mintak maaf awal2 jikalau ader maner2 artikel atau penulisan dalam blog ni yang menyinggung mana2 pihak. Sebarang komen dan kritikan membina amat dialu-alukan

Jumaat, 2009 Mac 20

kisah bilal

Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang
sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu
dengan Rasulullah." Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali
kepadamu," demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal."Ya, Rasulullah,
aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu," kata Bilal masih dalam mimpi-Nya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal
bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.


Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosongn di
hampir seluruh penjuru kota Madinah. Hari itu, Madinah benar-benar
terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka
kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari
mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu.


Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal
mengumandangkan adzan Maghrib, padahal Bilal sudah cukup lama tidak
menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin
menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang
dikumandangkan Bilal. Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa,
Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang
mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal
terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak
terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. "Marhaban ya
Rasulullah," bisik salah seorang dari mereka.


Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk
mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat
setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal
mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatukalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, "Asyhadu anna
Muhammadarrasululla h." Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah
Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit
Madinah.


Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal
untuk adzan. "Adzanlah wahai Bilal," perintah Abu

Bakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, "Jika engkau dulu membe-baskan
demi
kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi
Allah
kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku".
"Hanya
demi Allah aku membebaskanmu Bilal," kata Abu Bakar. "Maka biarkan aku
memilih pilihanku," pinta Bilal. "Sungguh, aku tak ingin adzan untuk
seorang pun sepeninggal Rasulullah," lanjut Bilal.

"Kalau demikian, terserah apa maumu," jawab Abu Bakar.


Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umarbin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu,
waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk
mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik
keatas menara dan bergemalah suaranya.


Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali.
Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang
dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan
terakhir
yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa
menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.

0 ulasan: